MAGOS Y MISTICOS DEL TIBET ALEXANDRA DAVID-NEEL PDF

Slideshare uses cookies to improve functionality and performance, and to provide you with relevant advertising. If you continue browsing the site, you agree to the use of cookies on this website. See our User Agreement and Privacy Policy. See our Privacy Policy and User Agreement for details. Published on Oct 9,

Author:Kaganris Moogugul
Country:Tunisia
Language:English (Spanish)
Genre:Environment
Published (Last):2 July 2010
Pages:280
PDF File Size:2.65 Mb
ePub File Size:15.99 Mb
ISBN:630-2-12080-848-7
Downloads:47660
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Nidal



Penjelajah wanita dinegeri ajaib Tibet yang membuka tabir magic dan misteri kegaiban para Lama yang dapat menciptakan tulpa makhluk gaib serta keane Recommend Documents. Guardian Deities in Tibet. Alexandra David Neel - Astravakra Gita. Alexandra Santa.

Sei Nell'Anima nannini. El Aura. Gibson Shamanic in Tibet and Central Asia. Almeno Tu Nell Universo Full description. Art of Tibet Art of Tibet. Analise do filme Nell.

Tibet Journal Medicine diario sobre medicina tibetanaFull description. Louise Eugenie Alexandrine Marie David lahir di Paris tgl 24 Oktober , dengan membawa serta sifat penjelajah dalam dirinya.

Sejak kecil ia selalu merindukan tempat-tempat yang asing, jauh dari rumahnya, jauh dari lingkungannya. Saat berumur 5 tahun ia sudah mencoba menjelajahi hutan Vincennes, Paris, hingga akhirnya ditemukan seorang penjaga yang lalu membawanya ke kantor polisi, kegagalan petualangan pertamanya ini malah membuat ia semakin bertekad untuk pergi lagi, suatu saat nanti.

Ketertarikannya dengan dunia Timur lalu membuat ia mendalami Oriental Philosophy dan bergabung dengan Theosophical Society di Paris. Tahun ia mendapat kesempatan emas mengunjungi India, segera ia manfaatkan waktu setahun di sana dengan menjelajahi negeri itu dari Barat hingga ke Timur, dari Selatan hingga ke Utara, yang lalu membuat ia terpikat oleh kegaiban India, terpesona pada alunan musik rakyat Tibet, terkagum-kagum pada kilauan pegunungan Himalaya.

Sadar bahwa inilah tempat impiannya selama ini, maka ia pun bersumpah bahwa kelak ia akan kembali. Meskipun kemudian pada tahun ia menikah, namun obsesinya untuk mengunjungi Tibet tak pernah padam, dan pada bulan Agustus ia meminta izin pada suaminya untuk pergi ke India, berjanji padanya bahwa ia akan kembali dalam delapan belas bulan.

Ekplorasinya sendiri diawali di Sikkim, sebuah negara kerajaan kecil di antara perbatasan India, Tibet, dan Nepal saat ini sudah menjadi negara bagian India.

Karena menjelajah terlalu jauh hingga ke Shigatze yang merupakan wilayah kekuasaan Tibet, ia pun dipaksa keluar dari sana pada tahun Berhubung di Eropa tengah berkecamuk perang dunia I maka ia memutuskan untuk melakukan tur ke Burma, Jepang, Korea, dan Cina. Dari seorang filosofer Jepang ia menemukan untuk memasuki Tibet. Wanita bermental beserta rombongannya lalu melintasi Cinaide dari Timur hingga ke Barat, menembus gurunbaja Gobiinidan Mongolia, menghadapi berbagai rintangan yang tak ringan.

Setelah tiga tahun menetap di Biara Kum-Bum, dan dengan menyamar sebagai seorang pengemis wanita, pada tahun ia berhasil menjejakkan kaki di Lhasa, mengunjungi Potala dan biara-biara besar lainnya. Kembali ia diusir dari Tibet setelah penyamarannya akhirnya terbongkar. Maka pada Mei , setelah berpisah selama hampir empat belas tahun, ia dan suaminya baru kembali bertemu.

Berapa banyak wanita di masa itu bahkan hingga saat ini, hampir satu abad setelahnya yang mampu mewujudkan apa yang menjadi obsesi pribadinya, memerdekakan diri dari belenggu kodratnya, dari kungkungan lingkungannya, hingga pada akhirnya dapat melakukan sebuah ekspedisi yang luar biasa kerasnya, di usia yang sudah tidak muda lagi, sekitar 44 tahun, dan ketika menginjakkan kaki di Lhasa ia sudah berumur 56 tahun.

Dan yang membuat ia lebih istimewa lagi adalah bahwa ia terjun langsung untuk merasakan kehidupan dunia religius Tibet.

Ia menghabiskan dua tahun lamanya dalam sebuah pertapaan di Lachen, Sikkim Utara, di sebuah gua di lereng pegunungan Himalaya pada ketinggian Sehingga apa yang kemudian ia tuliskan di buku ini, adalah bukan hanya sekedar kumpulan data-data, keterangan-keterangan, yang ia peroleh dengan bertanya atau ia baca dari teks-teks kuno, tetapi juga dari apa yang ia lihat dengan mata kepala sendiri, yang ia alami, yang pernah ia praktekkan, yang pernah ia rasakan.

Informasi-informasi berharga pun ia peroleh dari orang-orang terpercaya, para lhama maupun gomchen-gomchenyang ia kenal baik, bahkan ia sempat berdiskusi dengan Dalai Lhama XIII, dan ia yakin bahwa ia adalah wanita barat pertama yang diterima sebagai tamu pemimpin spiritual Tibet tersebut.

Meskipun telah menyesuaikan diri dengan pola kehidupan rakyat Tibet, telah melihat dan mengalami beragam fenomena gaib, dan sudah diterima kebanyakan masyarakat Tibet sebagai seorang Lhama wanita terhormat, sehingga kerap dipanggil dengan sebutan Jetsunma, namun pikiran kritis khas seorang Barat tetap melekat padanya, ia mencoba mengkaji semua kejadian gaib yang ia alami secara rasional, namun tetap saja masih ada yang menjadi tanda tanya.

Dia tak segan-segan memuji kebijaksanaan sejumlah Lhama terhormat, mengakui kekuatan gaib yang dimiliki para naljorpa, kehebatan ilmulung-gom, tumo, telepati, penciptaantulpa-tulpa, fenomena psikis yang membuatnya penasaran, mengagumi kekuatan fisik dan mental para wanita Tibet yang menapaki jalan spiritual, dan salut pada para siswa muda yang bermental baja dalam proses pencarian spiritual, namun ia juga mengkritik sejumlah unsur dalam kehidupan sebuah biara, resparespa gadungan, hingga sejumlahgomchen yang memanfaatkan kepercayaan orang-orang desa Tibet untuk kepentingan pribadi ataupun sejumlah bhikkhu biara yang lebih tertarik dalam urusan bisnis.

Di rumah inilah ia melanjutkan petualangannya, setelah sebelumnya sempat kembali ke Cina dan melakukan perjalanan ke sejumlah tempat di Eropa, dengan menulis sejumlah buku hingga akhir hayatnya. Ia wafat pada 8 September di usia tahun. Tetapi setahun sebelumnya, di usia tahun ia sempat membuat orang tercengang karena masih juga memperpanjang paspornya, wujud hasrat penjelajahannya yang tak pernah padam. Tahun abu jenazahnya beserta teman seperjalanannya yang juga anak angkatnya, Lhama Yong Den, dibawa ke Benares dan ditaburkan di sungai Gangga.

Buah perjalanannya ke Tibet ia rangkum dalam dua buku, buku pertamanya berjudul My Journey to Lhasa , dan karena banyak yang bertanya padanya tentang pengalaman spiritualnya selama di Tibet dan di negara sekitarnya, doktrin-doktrin dan praktek Lhamaisme, ritual-ritual gaib Tibet, teori-teori mistik berikut latihan spiritualnya, kemampuan supernormal para lhama dan para pakar ilmu gaib, dan pengalamannya ketika bertemu, berbincang, dan bersahabat dengan sejumlah Magic and Mistery in lhama maupun penguasa Tibet dan Sikkim, maka ia pun menulis buku ini, Tibet.

Wajah religius dan misterius Tibet saat ini tentu sudah banyak mengalami perubahan, terutama sejak Tibet berada di bawah kekuasaan Cina, namun kita berharap semangat paratrapa muda yang tersisa dalam menempuh jalan spiritual tetap menyala sehingga dunia religius Tibet yang sebenarnya, yang seharusnya, akan kembali hidup, suatu saat nanti. Kepercayaan akan fenomena psikis, keajaiban-keajaiban, dan hal-hal gaib masih tetap hidup di saat ini seperti halnya di masa abad pertengahan.

Perbedaannya adalah sekarang ini kita memiliki kebebasan untuk membicarakan dan mencoba untuk mengalaminya tanpa rasa takut akan kekuasaan institusi tertentu. Karena pernah hidup di Tibet, orang-orang sering datang padaku, memintaku melakukan hal-hal luar biasa dengan berbagai alasan. Mulai dari keinginan yang sederhana, yakni hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu, hingga keinginan untuk lulus ujian, sukses dalam transaksi bisnis, menyembuhkan penyakit, atau untuk melaksanakan tindak kejahatan.

Tentu saja maksudnya bukan menyuruhku membawa sepucuk pistol berisi peluru lalu membunuh pasangan yang bersalah itu, tetapi mengakhiri hidup mereka dengan cara-cara gaib dari jarak jauh, yang dianggap dapat kulakukan tanpa perlu meninggalkan ruanganku.

Orang-orang yang memburu keajaiban ini mungkin akan amat terkejut jika mendengar aku mengatakan bahwa orang-orang Tibet justru tidak mempercayai adanya keajaiban, kejadiankejadian supranatural. Mereka meyakini bahwa kejadian-kejadian luar biasa yang sering mencengangkan kita adalah hasil kerja energi-energialamiah yang menjadi sebuah aksi dalam keadaan-keadaan tertentu, atau melalui keahlian seseorang yang mengetahui cara untuk melepaskannya, atau kadang, melalui perantaraan seorang individu yang tak mengetahui bahwa dirinya memiliki elemen-elemen yang dapat menggerakkan materi tertentu atau mekanismemekanisme mental yang menghasilkan sejumlah fenomena luar biasa.

Orang-orang Tibet juga cenderung mempercayai bahwa segala sesuatu yang dibayangkan seseorang akan dapat diwujudkan. Mereka menyatakan bahwa jika hal-hal yang dibayangkan tersebut tidak berhubungan dengan realita-realita di luar dirinya, maka dia tidak akan dapat memahami imajinasi-imajinasinya itu.

Sekali lagi, berkaitan dengan hal ini, orang-orang Tibet juga meyakini bahwa dengan memusatkan pikiran secara terus-menerus, seseorang akan dapat menciptakan kehidupan dan melakukan realitas eksternal dari sebuah bentuk yang menjadi objek konsentrasi pikiran tersebut. Kita akan melihat contohnya di buku ini. Dalam semua kasus, seperti yang sudah kutegaskan sebelumnya, segala sesuatunya berhubungan dengan energi-energi alamiah, dan aksi-aksi itu bisa terjadi secara spontan ataupun direncanakan oleh mereka yang memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Dalam kasus-kasus tertentu, ada kemungkinan mereka ini menerima bantuan dari makhlukmakhluk yang bukan berasal dari alam manusia; keyakinan akan hal ini menyebar luas di seantero Tibet.

Hal ini pun berlaku di negeri kita. Para pemuja memohon kepada orang-orang suci, menjanjikan sesuatu jika keinginan mereka dikabulkan, ataupun memanfaatkan pengaruh mereka untuk menaklukan kekuatan-kekuatan superior, sebagaimana yang tertulis dalam kisah-kisah di abad pertengahan, semua berawal dari keyakinan yang sama. Aku juga ingin melihat wujud negeri yang terletak di antara puncak-puncak gunung yang tinggi, tempat dimana diyakini orang-orang India sebagai tempat tinggal dewa-dewa mereka.

Aku tinggal bertahun-tahun untuk mengembara ke seluruh peristiwa-peristiwa penjuru wilayah negeri itu dengan berbagai istimewa, resiko. Dalam perjalananku, aku menyaksikan aneh, bertemu orang-orang dan memasuki ambang pintu sebuahspiritualitas yang spesifik. Maka buku ini hanyalah sebuah peta perjalanan — sebuah buku yang menuntunku menemukan jalan yang sebenarnya dari jalan-jalan setapak yang terputus-putus. Dilatar belakangi pegunungan Alpen yang menyerupai miniatur Pegunungan Himalaya.

Saya tinggalkan Dawasandup sebagai pemandumu. Dia akan menemanimu ke Gangtok. Makhluk pendek berkulit kuning berjubah kain brokat jingga, dengan sebuah intan berbentuk bintang bersinar di topinya, bukankah ia lebih mungkin jin yang turun dari gunung sekitar sini? Mungkin ia akan menghilang bagai ilusi,kerajaan dengan di kuda kecilnyanamun yang berpelana indah dan rombongan pengikutnya, yang berpakaian dalam warna warni pelangi.

Ia adalah bagian dari hal-hal yang menakjubkan dimana aku hidup lima belas hari terakhir ini. Episode baru ini laksana mimpi. Negara dimana para lelaki berjaket gelap yang kusam dan kuda-kuda tidak memiliki pelana perak di atas kain kuning emasnya. Jin muda itu menggerakkan tunggangannya yang kecil, para ksatria dan prajurit melompat ke sadel mereka.

Aku mendengar diriku, seolah-olah aku sedang mendengar suara orang lain, berjanji padanya akan memulai perjalanan ke kotanya esok hari, dan rombongan kecil itu, diawali oleh para pemusik pun menghilang.

Saat nada terakhir dari alunan musik datar itu menghilang di kejauhan, keajaibanyang mengelilingiku pun menjadi lenyap. Aku tidak sedang bermimpi, semua ini nyata. Aku berada di Kalimpong, di pegunungan Himalaya, dan pemandu yang diberikan padaku berdiri di sampingku.

Suhu politik, saat itu, memaksa Dalai Lhamamencari perlindungan ke teritori Inggris. Saat beliau berada di daerah perbatasan India, aku memanfaatkan sebuah kesempatan yang jarang terjadi itu untuk melakukan wawancara guna mendapatkan informasi dari beliau tentang tipe khusus dari Buddhisme yang hidup di Tibet. Sangat sedikit orang asing yang berhasil mendekati Sang Raja-Bhikkhu yang bersembunyi di kota sucinya, di Negeri Bersalju. Bahkan dalam pengasingan, beliau tak menemui siapapun.

Saat aku berkunjung, beliau telah dengan tegas menolak pengunjung wanita kecuali orang Tibet dan aku percaya, hingga hari ini, bahwa aku adalah satu-satunya pengecualian dari peraturannya itu. Dulu saat kutinggalkan Darjeeling, di awal fajar kemerahan di pagi musim semi yang dingin, aku sedikit menerka sejauh apa konsekuensi-konsekuensi yang bakal ditimbulkan oleh keinginanku.

Aku pikirkan sebuah perjalanan yang singkat, wawancara yang menarik namun ringkas; sementara 13 kenyataannya, aku menjadi terlibat dalam pengembaraan-pengembaraan menahanku di Asia selama empat belas tahun penuh.

Di Kalimpong, Raja-lhama tersebut tinggal di sebuah rumah besar milik seorang menteri Raja Bhutan. Untuk memberi kesan agung, dua baris batang bambu yang tinggi ditanamkan di kanan kiri sehingga membentuk sebuah jalan besar.

Bendera berkibar di tiap puncak bambu, dengan tulisan Aum mani padme hum! Gedung kerajaan pengasingan tersebut memiliki ruangan yang cukup banyak dan terdapat lebih dari seratus pelayan di sana. Mereka kebanyakan menghabiskan waktunya dalam gosip yang tak berkesudahan, dan dalam suasana sepi yang mengelilingi tempat itu.

Potala yang megah dan bertata krama tidak tampak di daerah pengasingan itu. Mereka yang melihat perkemahan di tepi jalan ini, dimana Penguasa Religius Tibet sedang menunggu pemulihan kekuasaannya, tak dapat membayangkan seperti apabentuk istana yang ada di Lhasa. Ekspedisi Inggris yang memasuki daerah terlarang dan berparade di ibukotanya, tanpa memerdulikan kekuatan gaib dari pemimpin spiritual tertinggi tersebut, barangkali telah membuat Dalai Lhama menganggap bahwa kaum barbarian asing itu menguasai nilai-nilai materi, dengan hanya mengandalkan kemampuan senjata.

Penemuan-penemuan yang beliau perhatikan di sepanjang perjalanannya menuju India seharusnya membuat beliau percaya kemampuan mereka untuk menguasai dan membentuk elemen materi da ri alam. Namun keyakinan beliau bahwa bangsa kulit putih bermental lebih rendah tetap tak tergoyahkan, sehingga beliau hanya berbagi pendapat dengan sesama bangsa Asia, dari Ceylon ke Utara hingga Mongolia. Seorang wanita barat yang mengetahui doktrin-doktrin umat Buddha bagi beliau adalah fenomena yang tak masuk akal.

Tak mudah meyakinkannya bahwa teks Tibet dari salah satu kitab [5] umat Buddha yang paling dihormati telah diterjemahkan ke bahasa Perancis bahkan sebelum aku lahir. Jawabanku memuaskan Dalai Lhama. Beliau bersedia menjawab semua pertanyaan yang kuajukan, kemudian memberikan jawaban tertulis yang panjang atas berbagai subjek yang telah kami diskusikan. Tetapi ada sesuatu yang harus dilihat dahulu sebelum berangkat.

Kemarin, aku menyaksikan upacara doa untuk para peziarah yang dipimpin Dalai Lhama, yang sangat berbeda dengan upacara di Roma. Di sana Paus memberkati secara massal dengan gerak isyarat, sementara di Tibet jauh lebih seksama dan semua orang pun mengharapkan untuk diberkati secara pribadi. Aturan pemberkatan cukup bervariasi sesuai tingkatan orang yang diberkati.

Sang Lhama meletakkan kedua tangannya di kepala orang yang paling dihormati. Untuk yang lain hanya satu tangan, dua jari, bahkan ada yang cuma satu jari.

DENON RCD-M37 MANUAL PDF

Magos y místicos del Tíbet

.

BUKOVSKI POEZIJA PDF

David Neel Alexandra Magos y Misticos Del Tibet 2

.

Related Articles